3 Panti PIjat Ditutup, Pekerja Langsung Disuruh Pulang

oleh
3 Panti PIjat Ditutup, Pekerja Langsung Disuruh Pulang

Kediri, Memo,-

Pemerintah Kota Kediri akhirnya menutup paksa 3 panti pijat di Kota Kediri yang diketahui memberikan pelayanan prostitusi terselubung. Ketiga panti pijat tersebut adalah Akeno Spa yang berada di Jl Kapten Tendean 254B Kediri, Iin Pijat Tradisional dan Shiatsu di Jl Penanggungan 122 Kediri, dan Bunga Bali Pijat Tradisonal di Kelurahan Sukorame Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Seluruh karyawan yang masih berada di dalam langsung dipulangkan dan lokasi panti pijat langsung digembok dan disegel oleh petugas gabungan dari Badan Penanaman Modal (BPM) dan Satpol PP.

Kepala BPM Kota Kediri, Triyono Kutut Purwanto mengatakan, penutupan ketiga panti pija ini sudah melalui berbagai pertimbangan dan pengkajian. Hasilnya, selain tidak memiliki persyaratan yang sesuai dengan standar sebuah panti pijat kesehatan, di panti tersebut juga disinyalir dijadikan lokasi prostitusi terselubung. “Ketiganya kami tutup karena dari hasil laporan masyarakat, di tempat-tempat tersebut juga dilakukan praktik prostitusi terselubung,” ujarnya.

Petugas gabungan berangkat dari balai Kota Kediri sekitar pukul 13.00 WIB. Mereka langsung menuju lokasi pertama di Akeno Spa. Sesampainya di lokasi tersebut, ternyata keadaan Akeno Spa telah tutup. Terlihat pintu depan panti telah tertutup. Petugas yang sejak awal mempersiapkan rantai untuk menyegel tempat tersebut tiba-tiba kaget, lantaran ada seseorang yang tiba-tiba membuka pintu dan keluar dari lokasi tersebut.

Beruntung, petugas belum sempat menggembok pintu tersebut. Padahal, didalamnya ada 2 orang pekerja wanita dan satu orang pria yang mengaku sebagai petugas parkir. Petugas lantas meminta seluruh pekerja di lokasi tersebut untuk keluar dan pulang.

Di lokasi kedua, di Iin Pijat Tradisional dan Shiatsu, petugas sedikit mengalami kesulitan. Pasalnya, pengelola mengaku mengontrak di lokasi panti pijat tersebut dan tinggal di dalamnya. Apabila panti pijat tersebut disegel, ia mengaku tidak bisa lagi tinggal. Tidak hanya itu, kurang lebih 4 pekerja wanita yang masih ada di dalam panti pijat juga menolak untuk keluar. Alasannya, mereka merupakan penduduk luar kota dan tidak bisa pulang.

Mengetahui alasan tersebut, petugas dari BPM kemudian menyediakan kendaraan yang akan mengantar para pekerja pulang ke kampong halamannya. Lagi-lagi mereka menolak dan mengaku akan pulang sendiri.

Dedi, pengelola Iin Pijat Tradisional dan Shiatsu meminta kepada petugas untuk tetap memperbolehkan ia tinggal di tempat tersebut. Dedi berjanji tidak akan melakukan aktifitas pemijatan. “Saya disini tinggal mengontrak. Saya janji tidak akan melakukan aktifitas pemijatan,” ujarnya.

Sebelumnya, Dedi juga mengaku sudah memiliki seluruh persyarakatan yang dibutuhkan untuk terus membuka praktik pijatnya. Namun, pihak BPM menjelaskan, bahwa sebagai panti pijat, syarat-syarat teknis yang dimiliki Iin Pijat Tradisional dan Shiatsu tidak standar. Para pekerjanya diketahui sampai saat ini belum memiliki sertifikat tenaga kesehatan dari Kementerian Kesehatan. Selain itu, lokasi Iin Tradisional dinilai tidak standar, yakni tidak memiliki ventilasi udara yang sesuai dengan lokasi terapi kesehatan.

Di lokasi terakhir, yakni di Bunga Bali, petugas juga melakukan hal yang sama yakni meminta seluruh karyawan untuk pulang dan mengunci rapat pintu panti pijat serta memasang label segel di depan pintu tersebut.

Kutut menjelaskan saat ini ada 13 panti pijat di Kota Kediri. 3 diantaranya yang sudah disegel kali itu sudah dipastikan melakukan praktik prostitusi terselubung. Untuk panti pijat lainnya, BPM masih melakukan pengajian dan pengawasan. Apabila ada laporan dari masyarakat terkait praktik serupa dilakukan oleh panti pijat lainnya, pihaknya akan segera melakukan penyegelan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *