Gerebek Pengepul Oli Bekas

oleh
Gerebek Pengepul Oli Bekas

By: memokediriOn: June 8, 2014

Tempat pengepul oli bekas milik Sumilah (36) warga Dusun Kates RT 01 / RW 09 Desa / Kecamatan Rejotangan Kabupaten Tulungagung, Rabu (4/6) sekitar pukul 14.30 WIB digerebek polisi. Penggerebekan tersebut karena diduga kuat tidak memiliki ijin usaha. Apalagi penimbunan, penyimpanan dan pengolahan limbah oli itu termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3).

Dari rumah Sumilah polisi berhasil menyita barang bukti berupa 95 drum yang berisi oli atau pelumas bekas tiap drum berisi 200 liter, serta satu unit mobil pick up nopol L 8329 LL yang dipakai alat transportasi. Kemudian barang bukti diamankan di Polres Tulungagung guna proses penyidikan lebih lanjut. Selain itu, polisi juga memasang police line di tempat usaha Sumilah.

Kapolres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto melalui KBO Reskrim Iptu Randhy Irawan mengatakan polisi memang menyita bahan berbahaya dan beracun (B3). Penggerebekan bermula dari informasi warga yang mengetahui tentang adanya penimbunan, penyimpanan dan pengolahan limbah B3 didaerahnya yang tidak mempunyai izin.“Setelah mendapat informasi polisi langsung melakukan pengecekan di lokasi”, katanya.

Ketika melakukan pengecekan terhadap terlapor dan lokasi yang dijadikan usaha oleh perempuan paro baya itu ternyata informasi tersebut benar, dan petugasp menemukan 85 drum berisi oli atau pelumas bekas kurang lebih 200 liter serta mobil pick up yang bermuatan 10 drum masing – masing berisi 200 liter oli bekas. Setelah diminta untuk menunjukkan surat izin penyimpanan sementara limbah (B3), terlapor tidak dapat menunjukkan surat izin tersebut. Petugas langsung melakukan penyitaan terhadap barang bukti.“Jadi total yang disita 95 drum yang berisi kurang lebih 19.000 liter oli bekas dan terlapor masih dalam penyidikan”, imbuhnya.

Randhy melanjutkan, usaha ini sudah dilakukan oleh terlapor selama satu tahun. Terlapor mendapatkan oli atau pelumas bekas dari beberapa daerah terutama dari Tulungagung, Kediri, Trenggalek, dan Ponorogo. Oli dan pelumas bekas tersebut oleh terlapor ditaruh di bunker tempat penyaringan yang berukuran 1 meter persegi dengan kedalaman 2 meter. Kemudian oli yang sudah disaring disedot keluar dengan menggunakan diesel dan dimasukkan kedalam truk tangki dan dijual ke perusahaan oli di Surabaya. Dari usaha tersebut yang sangat dirugikan adalah konsumen serta lingkungan.

“Terlapor bisa dijerat dengan pasal 102 Jo pasal 59 ayat 4 UU RI nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup jo pasal 3 ayat 2 peraturan menteri negara lingkungan hidup nomor 18 tahun 2009 tentang tata cara perizinan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun dengan ancaman hukuman 3 tahun kurungan penjara”, pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *