Harga Hancur, Petani Tebu Merugi

oleh
Harga Hancur, Petani Tebu Merugi

Kediri,Memo-

Hancurnya harga tebu sepanjang tahun 2014 membuat para petani menderita kerugian yang cukup besar. Untuk tiap hektare tanaman tebu, kerugian yang dialami petani mencapai puluhan juta rupiah.

Sugito, salah satu petani tebu asal Desa Bakung Kecamatan Wates Kabupaten Kediri mengaku banyak faktor yang menyebabkan para petani tebu merugi pada musim giling tahun 2014 lalu. “Faktor penyebab kerugian petani tebu untuk musim giling tahun ini sangat banyak. Beredarnya gula rafinasi yang harusnya dibatasi hanya untuk perusahaan makanan dan minuman, sistem kerjasama anatara PG dan petani yang kurang terbuka dan masih banyak lagi penyebab lain” ungkap Sugito.

Menurut Sugito, dugaan peredaran gula rafinasi di pasar secar bebas membuat harga gula lokal kalah bersaing. Akibatnya penjualan gula local seret. Hal itu berdampak pada harga tebu yang merupakan bahan baku utama industri gula hancur.

Pada musim giling tahun 2014, harga tebu hanya sekitar Rp 27.000 per kuintal. Padahal menurut Sugito, untuk dapat menutup modal, harga tebu paling tidak harus sebesar Rp 50.000 per kuintal. “Harusnya pemerintah harus tegas agar gula rafinasi tidak beredar di pasar,” imbuhnya.

Selain itu rendahnya randemen juga membuat penghasilan petani tebu anjlok. Pada musim giling 2014 lalu, menurut Sugito, randemen tebu miliknya hanya mencapai 7 persen saja. Jika dibading musim giling tahun sebelumnya randemen tebu miliknya mengalami penurunan hingga 2 persen.

Dengan berbagai hal itu, Sugito mengaku dalam satu hektare tanaman tebu, di musim giling 2014 lalu, petani tebu merugi hingga Rp 20 juta lebih. “Besar kerugian itu hanya hitungan minimal. Itu belum juga ongkos tebang dan angkutan,” tambahnya.

Sugito berharap pada pemerintah untuk segera turun tangan menyelamatkan para petani tebu. Sebab jika terlambat, komoditas pertanian ini akan hancur. “Pemerintah harus segera turun tangan, benahi regulasinya, tegakan aturan hukumnya serta benahi tats niaganya,” pungkas Sugito.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *