Jumlah Kasus Pencabulan Meningkat Anak Broken Home Jadi Sasaran Asusila

oleh
Jumlah Kasus Pencabulan Meningkat Anak Broken Home Jadi Sasaran Asusila

Tulungagung, Memo-
Kasus pencabulan di Kabupaten Tulungagung terus mengalami peningkatan. Terbukti, kasus pencabulan yang dilaporkan ke Polres Tulungagung mulai Januari – Mei 2014 mencapai 11 kasus. Apabila dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah kasus pencabulan mengalami kenaikan. Sebab, tahun lalu hanya tercatat empat kasus pencabulan. Yang membuat miris, mayoritas korban pencabulan merupakan anak dibawah umur dan masih berstatus pelajar. Mereka umumnya berasal dari keluarga yang berantakan atau broken home.

Kapolres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto melalui Kasubbag Humas AKP Dwi Hartaya mengatakan maraknya kasus pencabulan akibat kurangnya perhatian dari orang tua, baik korban maupun pelaku. “Masih banyak kasus pencabulan, korban dan pelaku hampir semuanya dibawah umur,” tuturnya.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tulungagung, Ipda Ipung Herianto mengatakan, mulai bulan Januari sampai bulan Mei 2014 sudah ada 11 kasus yang ditangani UPPA Polres Tulungagung. Ironisnya korban pencabulan adalah anak dibawah umur dan juga pelaku ternyata mayoritas masih usia pelajar sekolah.

“Memang benar korban rata-rata masih dibawah umur Serta dari beberapa kasus pencabulan yang kami tangani, ada juga yang sampai hamil. Artinya, tidak hanya dicabuli tapi juga disetubuhi pelaku”, katanya.

Ipung melanjutkan, dari data UPPA Polres Tulungagung diketahui pada Januari, Februari, dan April terjadi satu kasus. Lalu pada Maret terjadi dua kasus, dan paling banyak terjadi kasus pencabulan pada bulan Mei sebanyak enam kasus.

Penyebab kasus pencabulan maupun persetubuhan, rata-rata akibat kurangnya perhatian orang tua. Selain itu, kondisi keluarga tidak harmonis atau broken home.

“Sembilan puluh persen broken home dan juga ada yang ditinggal orang tuanya bekerja ke luar negeri dan dirawat oleh neneknya, yang mengakibatkan anak kurang pengawasan dan merasa tidak ada yang ditakuti,” katanya.

Lanjutnya, untuk meminimalisir kasus pencabulan diperlukan kerjasama semua pihak. Terutama peran dari masyarakat di sekitar anak-anak yang berasal dari keluarga broken home, saling mengarahkan jika mengetahui ada anak yang salah. Ada pula peran lain yakni dari LSM serta lembaga perlindungan anak (LPA).

“Sementara ini di Tulungagung belum ada rumah aman (shelter). Dan penanganan saat ini kami kerjasama dengan lembaga bantuan hukum (LBH) Kartini,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *