Kematian Covid-19 di Kota Kediri Tinggi, Karena Pasien terlambat dibawa ke Rumah Sakit

oleh
Kematian Covid-19 di Kota Kediri Tinggi, Karena Pasien terlambat dibawa ke Rumah Sakit

[Memokediri.com]

Kematian Covid-19 di Kota Kediri Tinggi, Karena Pasien terlambat dibawa ke Rumah Sakit.  Pekerjaan rumah (PR) Satgas Penanggulangan Covid-19 Kota Kediri tidak hanya menurunkan positivity rate korona. Melainkan juga harus menekan jumlah kematian pasien. Hingga pertengahan Agustus ini, persentase Kota Kediri masih jauh lebih tinggi dari Jatim.

Seperti kemarin, dengan total kasus Covid-19 yang mencapai 3.678 orang, sebanyak 341 orang di antaranya meninggal dunia atau sebanyak 9,27 persen. Sedangkan angka kematian pasien Covid-19 di Jatim hanya sekitar 6 persen.

Terkait hal tersebut, Jubir Satgas Penanggulangan Covid-19 Kota Kediri dr Fauzan Adima mengungkapkan, tingginya angka kematian Covid-19 di Kota Kediri karena pasien terlambat dibawa ke fasilitas Kesehatan (faskes). “Saat dibawa ke rumah sakit kondisinya sudah parah, akhirnya tidak tertolong,” ujar Fauzan.

Untuk mencegah hal tersebut terus terjadi, Fauzan menjelaskan, pihaknya memindah belasan pasien isolasi mandiri (isoman) ke ruang isolasi terpadu (isoter) di BLK Jl Himalaya, Kelurahan Sukorame, Mojoroto. Sebagian lainnya ke Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jl Mayjend Sungkono.

Dengan pemindahan belasan orang tersebut, menurut Fauzan kondisi mereka akan lebih terpantau. Ruang isoter menurutnya juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Sehingga, penanganannya lebih baik. “Mereka juga diawasi 24 jam,” lanjutnya tentang pemindahan 17 pasien isoman ke isoter kemarin.

Pemindahan pasien isoman ke ruang isoter, beber Fauzan, tidak hanya menekan angka kematian pasien Covid-19. Melainkan juga untuk mencegah penambahan pasien dari klister keluarga.

Berdasar evaluasi yang digelar satgas, penambahan pasien selama beberapa minggu terakhir mayoritas berasal dari klaster keluarga yang isoman. Karenanya, dengan pemindahan pasien ke ruang isoter diharapkan kasus juga bisa ditekan.

Untuk mengoptimalkan penanganan di ruang isoter, Fauzan menyebut dinkes menambah sejumlah sarana. Mulai stok oksigen, oximeter, bed, dan obat-obatan penanganan Covid-19. “Pemusatan penanganan di isoter juga membuat beban bidan desa dan nakes puskesmas jadi lebih ringan,” tuturnya tentang beberapa pertimbangan pemindahan pasien lainnya.

Bagaimana jika pasien yang isoman menolak dipindah ke ruang isoter? Fauzan menegaskan, pihaknya melibatkan polisi dan TNI dalam melakukan pendekatan. Mereka akan diajak menjemput pasien agar mau menempati ruang isoter.

Untuk diketahui, total ada 21 pasien yang kemarin menempati ruang isoter di BLK Jl Himalaya. Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri Indun Munawaroh menyebut pihaknya akan melakukan penjemputan terhadap pasien isoman untuk dibawa ke ruang isoter. “(Penjemputan, Red) dilakukan secara bertahap,” jelasnya.

Sementara itu, selama masa perpanjangan PPKM level 4, Pemkab Kediri memutuskan untuk memperketat pengawasan mobilitas warga. Termasuk dengan melakukan penyekatan di sejumlah lokasi yang dipadati masyarakat.

Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono menuturkan, pihaknya tidak menambah titik penyekatan baru. Anggotanya bersiaga di sejumlah titik yang sejak Juli lalu dijaga. “Mulai dari Pare, SLG, dan Ngasem untuk tempat keramaian. Sedangkan untuk penyekatan perbatasan ada di Kandangan saja,” paparnya.

Sekretaris Satgas Covid-19 Kabupaten Kediri Slamet Turmudi menambahkan, pihaknya mengikuti regulasi dari pusat. Termasuk instruksi pelonggaran tempat ibadah yang kapasitasnya bisa diisi hingga 50  persen.

Untuk memastikan tidak ada kerumunan, Slamet menyebut pihaknya akan melibatkan berbagai pihak untuk melakukan pengawasan. Termasuk satgas desa. “Ini (pengawasan, Red) menjadi PR tersendiri,” beber Slamet sembari menyebut pihaknya menginstruksikan pengelola tempat ibadah untuk memperketat protokol kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *