Lonjakan Covid Tinggi, Layanan Kesehatan Kabupaten Kediri Kelabakan, Perawat Tak Mencukupi

oleh
Lonjakan Covid Tinggi, Layanan Kesehatan Kabupaten Kediri Kelabakan, Perawat Tak Mencukupi

Memokediri.com

Lonjakan Covid Tinggi, Layanan Kesehatan Kabupaten Kediri Kelabakan, Perawat Tak Mencukupi .  Perawat di tengah lonjakan kasus Covid-19 kian dibutuhkan. Sebab, beban perawat tidak lagi seimbang dengan jumlah pasien Covid-19 yang terus berjatuhan.

“Saat ini diperlukan dukungan dan penambahan (perawat, Red),” ujar Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Kediri Wahyu Sri Astutik.

Menekan Angka Kematian, Kabupaten Kediri Membutuhkan Banyak Perawat di Semua Desa

Dengan kondisi saat ini, perawat yang sudah bergelar doktor ini mengungkapkan perlunya penambahan perawat. Khususnya di tiap-tiap desa untuk memantau warga yang menjalani isolasi mandiri (isoman). Sehingga bisa menekan angka kematian karena paparan Covid-19.

“Seharusnya perlu seluruh desa perlu adanya perawat desa, selama ini hanya bidan desa,” ujar perempuan yang biasa disapa Wahyu tersebut. Pasalnya sebanyak 1.700 perawat yang tergabung dalam PNNI Kabupaten Kediri telah turun tangan di masyarakat.

Selama Covid, Delapan Perawat Sudah Meninggal Dunia

Untuk jumlah perawat yang terpapar mencapai ratusan orang. Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kediri (RSKK) mencapai 100 orang, sedangkan puskesmas mencapai 130 orang. “(Total) Yang meninggal dunia delapan orang (selama pandemi),” imbuhnya.

Terkait dengan kebutuhan perawat di tiap desa, Wahyu menerangkan, perawat bisa melakukan deteksi penyakit secara menyeluruh. Sejauh ini hanya ada bidan desa yang konsentrasi penanganan terkait penanganan ibu dan anak.

Tugas Perawat Memantau Pasien Isoman di Rumah

Lalu bagaimana dengan tugas mereka nantinya? Wahyu mengatakan, untuk tupoksi perawat bisa melakukan rujukan warga ke rumah sakit, memantau kondisi pasien isoman di rumah dan memberi penyuluhan di masyarakat. “Sehingga segi preventif, promotif, dan rehabilitatifnya lebih maju,” tuturnya.

Sementara itu, untuk perawat yang saat ini bertugas, Wahyu mengungkapkan, mereka kelabakan sejak terjadi lonjakan. Pasalnya selain tenaga kesehatan kurang, mereka juga lelah selama bertugas menggunakan alat perlindungan diri (APD).

“Akhirnya kelelahan. Kita memakai hazmat hanya mampu 4 – 5 jam,” ungkapnya perempuan yang juga menjabat kepala Bidang Keperawatan RSKK tersebut.

Dari kondisi tersebut, jam kerja mereka pun diatur secara bergantian. Tiap sif yang berkisar enam orang akan dibagi dua bagian, yakni di ruang isolasi dan kantor.

Permintaan Plasma Konvalesen Makin Tinggi

Sementara itu, lonjakan kasus Covid-19 diikuti dengan tingginya permintaan plasma konvalesen. Sayang hingga sekarang, Unit Transfusi Darah (UTD) PMI belum miliki alat apheresis sendiri. Imbasnya, enam dari puluhan pendonor yang lolos seleksi minggu ini harus dikirim ke Sidoarjo untuk menjalani proses pengambilan plasma konvalesen.

“Ini masih ada enam (pendonor, Red). Berangkat minggu ini,” ujar Kepala UTD PMI Kabupaten Kediri dr Arin Istiyani kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin (25/7).

Dari keenam pendonor yang telah lolos seleksi di UTD PMI Kabupaten Kediri tersebut akan menjalani proses donor plasma konvalesen di Kantor PMI Sidoarjo.

Pemkab Kediri Tak Punya Alat Donor Plasma Konvalesen

Terkait belum tersedianya alat donor plasma konvalesen tersebut, Arin mengungkapkan, pihaknya telah berupaya mengajukan permintaan alat apheresis sejak April tahun lalu, total sebanyak tiga kali. “Karena lonjakan mengirim permintaan alat,” ujarnya.

Permintaan tersebut dilakukan lantaran untuk pengadaan alat tersebut memang cukup mahal. Dengan begitu pihaknya kembali mengajukan di tahun ini.

Lalu bagaimana dengan suplai plasma konvalesen di Kabupaten Kediri dengan keterbatasan alat tersebut? Arin mengatakan, selama ini petugas UTD PMI membantu menghubungkan pendonor dengan rumah sakit yang membutuhkan.

Pendonor Darah PK Dikirim ke Sidoarjo

“Pendonornya langsung dikirim ke Kota Kediri atau Sidoarjo (kantor PMI, Red),”imbuhnya. Dari cara tersebut, pendonor akan secara langsung menjalani serangkaian pemeriksaan dan pengambilan plasma konvalensen di rumah sakit.

Meski demikian, sekitar dua minggu berjalan UTD PMI Kabupaten Kediri telah melakukan tahap seleksi bagi pendonor. Namun, hal tersebut masih terjadi beberapa kendala. Jumlah penyintas Covid-19 masih belum banyak yang tergerak, pendonor banyak yang gagal seleksi saat menjalani serangkaian pemeriksaan. “Mulai dari cek darah, hingga antibodi,” tuturnya.

Banyak Pendonor Tak Lolos Seleksi

Lebih lanjut, minggu lalu saja sebanyak 20 pendonor tak lolos seleksi. Mereka  gagal saat melalukan cek darah, trombosit belum memenuhi syarat, tes Covid-19, kondisi fisik pascanegatif setelah 14 hari dinyatakan negatif.

“Masih ada keluhan sesak, batuk, antibodi kurang dari standar,” ujarnya. Selain itu, minimnya pendonor plasma konvalesen pun menjadi tantangan saat ini.

Dengan kondisi tersebut, Arin mengungkapkan, pihaknya akan bersurat dengan pihak TNI/Polri dan ASN yang telah menjadi penyintas Covid-19. “Semoga ada tambahan dari masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.