Meninggal saat Isoman, Pemakaman Warga Kras Kediri Terkendala Hal Ini

oleh
Meninggal saat Isoman, Pemakaman Warga Kras Kediri Terkendala Hal Ini

Memokediri.com
Papan pemberitahuan berwarna ungu dan kuning bertulis ‘Rumah Isolasi Mandiri’ terpasang di salah satu rumah di Desa Setonorejo, Kras itu hampir selama dua minggu. Rumah itu tampak begitu lengang meski pintunya terbuka dan kursi ruang tamu berada di teras.

Pemberian papan tersebut sebagai penanda bahwa penghuninya telah terpapar Covid-19. Dengan begitu, mereka harus menjalani isolasi mandiri. Di rumah tersebut total ada tujuh orang sedang menjalani isoman dengan satu balita berumur 2,5 tahun yang telah diswab.

Tak hanya itu, di depan rumahnya masih tersisa bunga kenanga kering dan beras kuning. Tanda-tanda sisa kedukaan. “Saya telepon satgas (Satgas Covid-19 Desa Setonorejo, Red), kondisi bapak sekarang sudah meninggal,” ujar Sri Utami, anak sulung Rajikan

Rajikan merupakan salah satu warga Desa Setonorejo yang terpapar Covid-19 dan telah dikebumikan Senin (19/7) lalu. Sayangnya, perjalanan Rajikan sebagai pasien Covid-19 untuk mendapatkan penanganan ekstra belum diterimanya.

“Saya nyuwun bantuan dibeto teng rumah sakit pundi nggih mboten direspons. Gek sak keluarga isolasi (Saya minta bantuan dibawa ke rumah sakit juga tidak mendapat respons. Padahal satu keluarga diisolasi),” ungkap perempuan yang akrab disapa Sri tersebut.

Anak sulung Rajikan itu menuturkan, sebetulnya di rumah orang tuanya tersebut ada satu mobil namun tak ada yang menyopiri. Hingga Senin (19/7) lalu sekitar pukul 15.00, Rajikan mengembuskan nafas terakhir di rumahnya.

Lanjut Sri, jenazah sang ayah saat itu pun tak langsung dikebumikan lantaran terpapar Covid-19. Untuk prosesi pemakaman pun memang memerlukan tim khusus dengan prokes ketat.

Dengan berbagai usaha pun dilakukan pihak keluarga agar jenazah sang ayah segera dimakamkan. Sri telah mencoba meminta tolong kepala desa setempat dan tim satgas untuk meminta bantuan.

“Posisi tetap di kamar sampai dimandikan dari jam tiga sore hingga setengah sembilan malam. Keluarga tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkap warga Desa Rejomulyo, Kras tersebut. Satgas Desa pun berusaha meghubungi beberapa rumah sakit untuk meminta bantuan pemulasaraan.

Miris, dari sekian rumah sakit yang telah dihubungi tak ada satu pun yang bisa menangani. “Menghubungi rumah sakit semua nggak ada, RS Ahmad Dahlan, RS Baptis tidak bisa banyak pasien,” ungkapnya seraya menyebut akhirnya hanya RS Aura Syifa yang bisa.

”Ya, ada dengan biaya empat juta delapan ratus tujuh puluh delapan,” ujar Sri. Kemudian, satgas desa setempat pun kembali menanyakan pada pihak keluarga terkait kesiapan dana yang diperlukan.

“Bagaimana keluarga  siap, ada dana tidak?” ujar Sri masih menirukan ucapan satgas desa. Tentu saja pihak keluarga akhirnya mengiyakan. Meski sebenarnya tidak ada dana itu.

Setelah beruntung medapatkan tim pemulasaran dari RS Aura Syifa, Sri mengatakan, pihak keluarga mengeluarkan biaya Rp 4.878.000. Biaya pemulasaran jenazah Rajikan.

Biaya pemulasaran yang harus dikeluarkan agar bisa memakamkan jenazah sang ayah itu pun diperoleh dari bantuan sang paman dengan berbagai cara. “Paman sudah dari kemarin-kemarin siap (dana),” akunya.

Lalu dari mana Rajikan terpapar Covid-19? Sri mengatakan, keseharian bapaknya memang berjualan kayu. Dia pun tak bisa memastikan asal muasal terpapar. “Hanya bilang rasa badannya tidak enak. Itu tiga minggu sebelum meninggal dunia. Gak mau makan,” akunya.

Selama jatuh sakit itu, Rajikan tak nafsu makan selama dua minggu. Selama itu pula Sri bertugas membuatkan jus buah. Hingga kondisinya memburuk dan nyawanya tidak bisa diselamatkan.

sumber : Jawapos.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.