Pariwisata Kota Kedri Terpukul, Taman Pagora Kesulitan Kasih Makan Hewan

oleh
Pariwisata Kota Kedri Terpukul, Taman Pagora Kesulitan Kasih Makan Hewan

[Memokediri.com]

Pariwisata Kota Kedri Terpukul, Taman Pagora Kesulitan Kasih Makan Hewan.   Pandemi Covid-19 dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berkelanjutan memberi pukulan besar ke sektor pariwisata. Taman Pagora di Jl Ahmad Yani Kota Kediri yang pendapatannya nol, kini kesulitan memberi pakan satwa di sana.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, di Taman Pagora ada sekitar 100 ekor hewan berbagai jenis. Mulai aneka burung, buaya, beruang, rusa, kera, babi, ayam, kalkun, dan kuda poni. “Kebutuhan untuk pakan setiap hari sekitar Rp 500 ribu,” ujar Ketua Pengurus Taman  Pagora Mayjend Purn Sutarno melalui Sekretaris Taman Pagora Prio Prasodjo.

Biaya yang relatif mahal itu tak lepas dari pakan satwa yang mayoritas berupa daging. Manajemen pun memilih memberi pakan daging ayam, makanan kering, dan dedaunan.

Saat Taman Pagora beroperasi, Prio mengaku manajemen tidak kesulitan memberi pakan. Hal berbeda terjadi selama pandemi Covid-19 sejak tahun lalu. Taman Pagora diharuskan tutup sejak April 2020. “Tidak ada pemasukan sama sekali,” lanjut Prio.

Kondisi itulah yang membuat mereka kesulitan memberi pakan satwa koleksi mereka. Meski demikian, menurut Prio manajemen tetap berusaha memberikan pakan. Sebab, satwa yang berada di dalam kandang itu tidak bisa mencari pakan sendiri.

Diakui Prio, dari beberapa koleksi satwa Taman Pagora, ada beberapa di antaranya yang mati. Meski demikian, bukan karena kekurangan makanan. Melainkan karena faktor usia. “Beberapa (satwa, Red) berat badannya memang turun,” aku Prio sembari menyebut asupan pakan dari pengunjung sekarang tidak ada lagi.

Saat Taman Pagora beroperasi, biasanya satwa di sana mendapat pakan berupa kangkung, wortel, dan pisang. Dengan penutupan taman lebih dari setahun terakhir, pakan satwa murni yang berasal dari manajemen.

Prio menegaskan, sebelum pemberlakuan PPKM, sebenarnya Pagora sempat buka kembali pada Februari dan Maret lalu. Dua bulan beroperasi, mereka mengantongi pendapatan Rp 60 juta. “Kalau tidak pandemi ya bisa lebih,” beber Prio tidak bisa menyebut jumlah pendapatan sebelum pandemi karena dirinya baru menjadi pegawai Pagora setelah pandemi.

Meski demikian, dia tak mengelak jika pandemi membuat pendapatan Taman Pagora turun. Apalagi, kapasitas taman saat pandemi dibatasi hanya 50 persen.

Selain berbagai koleksi satwa, kolam renang merupakan fasilitas yang banyak diminati pengunjung. Selain perenang umum, Prio mengatakan pihaknya bekerja sama dengan delapan orang pelatih renang. Mereka biasa melatih anak didiknya setiap akhir pekan di Pagora. “Selama pandemi (latihan renang, Red) juga dihentikan,” keluhnya.

Apakah manajemen juga melakukan pengurangan karyawan? Prio menolaknya. Sebanyak 49 orang karyawan tetap dipekerjakan untuk melakukan perawatan. Hanya saja, mereka tidak bisa mendapatkan gaji yang sama seperti sebelum pandemi.

Melainkan, hanya mendapat insentif sesuai hari kerja mereka. “Soalnya karyawan juga tidak setiap hari masuk,” jelasnya.

Untuk diketahui, kondisi Taman Pagora yang kesulitan memberi pakan satwa agaknya sampai ke telinga Kadin Kota Kediri. Kemarin, rombongan Kadin Kota Kediri mengecek kondisi satwa di sana.

Selanjutnya, mereka menyerahkan bantuan Rp 2,4 juta untuk pembelian pakan satwa. “Bantuan ini murni solidaritas anggota Kadin Kota Kediri,” ujar Ketua Kadin Kota Kediri Solikhin sembari menyebut pihaknya prihatin melihat kondisi satwa di sana.

Terpisah, Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri Muhammad Ayub menyarankan agar Pagora memanfaatkan lapak kuliner di sana. “Bisa memanfaatkan wisata kulinernya. Bisa dihidupkan kembali wisata kulinernya dengan catatan prokes yang ketat,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *