Permintaan Kopi Dunia Naik, Program Desa Devisa Jangkau Pasar Global

oleh
Permintaan Kopi Dunia Naik, Program Desa Devisa Jangkau Pasar Global


banner 468x60

Permintaan kopi dunia berangsur naik setelah hampir dua tahun menurun akibat dampak pandemi global. Transportasi dan arus keluar masuk barang antar negara yang terbatas membuat rantai pasok logistik menjadi terganggu. Kelangkaan kontainer juga menyebabkan biaya logistik yang naik berlipat-lipat. Kendala ini pun menyebabkan volume perdagangan kopi menurun, terutama di jalur pasar ekspor dunia.

Direktur Bisnis II Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) Maqin U. Norhadi mengatakan mengatakan, untuk menggerakkan ekspor nasional, pihaknya sudah mempersiapkan sejak tahun lalu dengan mendorong pengembangan bisnis kopi. Salah satunya adalah melaksanakan program Desa Devisa khusus kopi, yang dimulai di Kabupaten Subang, Juli 2021 lalu.

Menurutnya, Indonesia sebagai produsen kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia, ikut terdampak oleh kondisi tersebut. Meski demikian, nyaris tidak ada pelaku usaha kopi yang gulung tikar dan beralih ke bisnis komoditas lain.

“Ini memperlihatkan bahwa penurunan bisnis kopi murni adalah akibat pandemi dan terganggunya rantai pasok, bukan karena berkurangnya permintaan pasar,” ujarnya dalan keterangan yang dikutip Memo dari JawaPos.com, Senin (10/1).

Maqin memaparkan, saat memasuki tahun 2021, permintaan kopi dunia sudah menunjukkan tren menggembirakan. Nilai ekspor kopi Indonesia rebound ditopang oleh kenaikan harga kopi dunia. Pertumbuhan nilai kopi masih minus yaitu sebesar -1,9 persen pada periode kumulatif Januari – Oktober 2021, namun relatif membaik dari minus 6,9 persen di tahun 2020. Porsi ekspor terbesar yaitu jenis kopi tidak disangrai (98,51 persen) dengan pertumbuhan nilai ekspornya -7,22 persen yoy (year on year) pada tahun 2020.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga meminta LPEI lebih kreatif dan inovatif, supaya Indonesia dapat memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi. Sebab, Indonesia dihadapkan pada sebuah lingkungan dunia yang bergerak sangat cepat.





Artikel Asli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *