Perusahaan Umum Aneka Usaha Nganjuk Ngaku Rugi, Jarang Setor PAD

oleh
Perusahaan Umum Aneka Usaha Nganjuk Ngaku Rugi, Jarang Setor PAD

Memokediri.com]

Perusahaan Umum Aneka Usaha Nganjuk Ngaku Rugi, Jarang Setor PAD. Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Aneka Usaha tidak hanya jarang setor pendapatan asli daerah (PAD). Namun, Perumda Aneka Usaha juga mengalami kerugian.

Tak tanggung-tanggung, kerugian yang dialami mencapai ratusan juta setiap tahun. “Tahun 2020 Perumda Aneka Usaha rugi 706 juta,” keluh Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Nganjuk Basori kemarin.

Kerugian ini membuat komisi yang membidangi perekonomian dan keuangan geram. Karena Perumda Aneka Usaha berdiri sejak 1962 tersebut diharapkan menjadi salah satu sumber PAD Kabupaten Nganjuk.

Tapi kenyataannya berbeda 180 derajat. Perumda Aneka Usaha hanya bisa setor PAD selama dua kali dalam delapan tahun terakhir. Yaitu, pada 2012 dan 2018 masing-masing sebesar Rp 356,13 juta dan Rp 32,6 juta. Totalnya Rp 388,73 juta. Selebihnya, Perumda Aneka Usaha mengaku rugi.

“Hampir setiap tahun selalu rugi ratusan juta,” ujarnya.

Sebagai wakil rakyat yang salah satu tugasnya adalah pengawasan, Basori mengatakan, komisi II tidak tinggal diam melihat kondisi Perumda Aneka Usaha. Manajemen Perumda Aneka Usaha telah dipanggil dan dimintai keterangan tentang kondisi unit usahanya.

Sampai saat ini, ada empat unit usaha yang dikelola. Yaitu, Apotek Nganjuk dan Apotek Sejahtera Kertosono. Kemudian, kebun cengkih di Sawahan seluas 23,6 hektare, Hotel Wisata Karya Sawahan, dan Toko Alat Tulis Grafika.

Dalam rapat kerja tersebut, komisi II telah melaporkan dan memberi teguran ke Perumda Aneka Usaha. Surat teguran tersebut disampaikan ke Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Tatit Heru Tjahjono untuk disampaikan ke Pemkab Nganjuk. “Kami minta pemkab mengevaluasi pengelolaan Perumda Aneka Usaha,” tandas politisi dari PKB ini.

Menurut Basori, kerugian yang dialami Perumda Aneka Usaha tersebut sebenarnya tidak masuk akal. Karena bidang usaha yang dimiliki tergolong sangat potensial. Apotek misalnya, pandemi Covid-19 membuat apotek ramai pengunjung. Jadi, tidak mungkin rugi.

Kemudian, kebun cengkih juga demikian. Tanaman itu sudah ada tumbuh. Tinggal merawat dan panen. “Kalau Hotel Karya Wisata Sawahan mungkin bisa rugi karena adanya pandemi Covid-19,” ujarnya.

Karena itulah, Basori akan menggelar rapat kerja dengan direksi Perumda Aneka Usaha yang baru dipilih. Rencananya, direksi yang baru harus memaparkan business plan yang baru. “Jangan sampai rugi lagi,” ingatnya.

Sementara itu, Dirut Perumda Aneka Usaha Jaya Nur Edi mengakui, jika Perumda Aneka Usaha sering merugi. Namun, dia bertekad hal itu tidak terjadi di bawah kepemimpinannya. “Saya siap memperbaiki Perumda Aneka Usaha,” ujarnya.

Jaya takan, sudah menyiapkan business plan yang akan dipaparkan ke komisi II DPRD Kabupaten Nganjuk. Harapannya, business plan tersebut bisa diterima dan didukung. “Kami akan revitalisasi apotek dan renovasi Hotel Karya Wisata Sawahan,” ujarnya.

Jaya mengharapkan, pemkab dan DPRD untuk mendukung business plan itu dengan mengucurkan bantuan modal yang sudah disepakati di peraturan daerah (perda).

Di perda tersebut, pemkab akan menggelontorkan dana Rp 85 miliar secara multiyear ke perumda. Hanya, berapa yang akan diterima Perumda Aneka Usaha tahun ini masih belum jelas. “Kita tidak bisa apa-apa jika tidak ada modal,” ujarnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.