Rumah Sakit Rujukan di Kabupaten Kediri, RSUD SLG, Sudah Overload

oleh
Rumah Sakit Rujukan di Kabupaten Kediri, RSUD SLG, Sudah Overload

[Memokediri.com]

Rumah Sakit Rujukan di Kabupaten Kediri, RSUD SLG, Sudah Overload. Kondisi rumah sakit yang sudah tidak lagi bis amenampung pasien Covid 19, dikarenakan penambahan pasien terkonfirmasi jadi tinggi.  Beberapa pasien yang sudah masuk rumah sakit, akhirnya berbaring di ruang antrian sambil mendapatkan perawatan.

          Selain di lorong IGD, sebagian pasien juga menjalani perawatan di tenda darurat yang dipasang di samping IGD. Belasan pasien tersebut menjalani perawatan di tempat darurat sembari menunggu giliran untuk bisa masuk ke IGD yang kemarin penuh.

Pasien Covid 19 Kabupaten Kediri Meningkat, Tenda Darurat Penuh dengan Pasien, Lorong Rumah Sakit Jadi Tempat Perawatan

          Jika kemarin sore tenda terlihat belum penuh, menurut Jubir Satgas Covid-19 Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib kemarin siang tenda darurat juga penuh pasien. Akibatnya, sebagian pasien terpaksa dirawat di lorong dan dekat pintu masuk IGD di gedung D.

Selain RSUD SLG, Khotib menyebut kondisi yang sama juga terlihat di RS rujukan lain di Kabupaten Kediri. Pasien Covid-19 di sana membeludak. Sehingga, penanganan harus dilakukan hingga di luar ruang IGD.

Beberapa Rumah Sakit di Kabupaten Kediri Overload Sejak Tiga Hari Lalu

Lebih jauh Khotib menegaskan, RS rujukan Covid-19 di Kabupaten Kediri overload sejak tiga hari terakhir. Lonjakan kasus korona menurutnya terjadi karena mobilitas masyarakat yang tetap tinggi.

Pasien Covid-19 berasal dari sejumlah klaster. Mulai klaster Bangkalan, Madura. Kemudian, klaster Jakarta, dan klaster keluarga lainnya. Untuk menekan penyebaran Covid-19, satgas akan semakin mengintensifkan

Jumlah Meningkat Drastis Setelah Ada Tracking

Selebihnya, Pemkab Kediri juga mengoptimalkan tempat karantina di desa dan kecamatan. “Untuk rencana, ya tetap akan kami kirim obat ke tempat karantina,” terang lelaki berambut klimis itu.

Terpisah, Humas RSUD SLG Ahmad Jazuli melalui Koordinator Keperawatan IGD Slamet Hidayat membenarkan kondisi RSUD SLG yang overload. Menurut Slamet, pihak rumah sakit tidak bisa menolak pasien. Setiap ada pasien baru yang masuk akan tetap dilayani.

Hanya saja, dalam kondisi darurat seperti kemarin, menurutnya pasien memang harus antre lebih lama untuk mendapat perawatan. “Kalau sudah penuh seperti ini, mungkin masih menunggu dulu,” terangnya sembari menyebut tenda darurat hanya untuk menangani pasien Covid-19.

BOR di Kota Kediri BNaik 77 %

Sementara itu, kondisi ruang IGD yang penuh juga terjadi di Kota Kediri. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Fauzan Adima menjelaskan, bed occupancy ratio (BOR) RS di Kota Kediri yang sebelumnya rata-rata 74 persen kemarin naik menjadi 77 persen.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, BOR tempat tidur (TT) isolasi RS Bhayangkara yang sejumlah 88 TT, terisi 84 di antaranya atau 95 persen. Kemudian, RSUD Gambiran yang memiliki 177, sudah terisi 154 atau 87 persen. Selanjutnya, RS Lapangan Kilisuci yang memiliki 85 TT, terisi 49 unit atau 58 persen. Selebihnya, BOR TT isolasi masih di bawah 50 persen.

Rumah Sakit di Kota Dapat Tumpahan Pasien dari Kabupaten

Kenaikan BOR kemarin, tutur Fauzan, salah satunya diduga akibat tumpahan pasien dari Kabupaten Kediri dan daerah lainnya. Selain BOR yang tinggi, pria yang juga Plt Direktur RSUD Gambiran ini menyebut IGD RS rujukan Covid-19 juga penuh. “Tidak sampai meluber, tapi IGD memang penuh,” urainya.

Kondisi IGD yang penuh ini menurut Fauzan membuat antrean di IGD dua hingga tiga kali lipat lebih lama. Idealnya, maksimal pasien dirawat di IGD selama tiga jam. Setelah itu, mereka langsung dibawa ke ruang perawatan.

Rata rata Pasien Nunggu 10 Jam Untuk Pemeriksaan

Adapun saat ini pasien harus menunggu sekitar 6-10 jam. Selain rangkaian pemeriksaan yang dijalani, mereka juga antre menunggu kamar kosong. “Ada pasien yang sudah pulang, kamarnya disiapkan dulu,” tegas Fauzan.

Seperti diberitakan, selain perawatan pasien di RS rujukan, Pemkot Kediri juga menyiapkan dua lokasi isolasi terpusat. Yakni, di Balai Latihan Kerja (BLK) Kelurahan Sukorame, Mojoroto dan di Gedung Nasional Indonesia (GNI).

Berapa pasien yang dirawat di dua gedung isolasi terpusat tersebut? Menurut Fauzan masih minim. Kemarin baru ada beberapa orang di sana. “Hanya ada satu atau dua orang. Masih kosong. GNI belum dimanfaatkan,” beber Fauzan tentang pasien yang dirawat di BLK tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.