Upacara Spiritual Suroan di Menang Sepi Mampring

oleh
Upacara Spiritual Suroan di Menang Sepi Mampring

[Memokediri.com]

Suasana di Desa Menang, Kecamatan Pagu, sepi tadi malam. Di malam 1 Suro itu, empat sisi pintu masuk desa dijaga ketat oleh petugas gabungan. Suasana desa tempat petilasan Sri Aji Jayabaya berada itupun sepi dari pendatang.

Padahal, biasanya kondisinya bisa sebaliknya. Di malam 1 Suro penanggalan Jawa itu pendatang dari luar daerah bisa tumpah ruah. Suasana desa juga mirip pasar malam. Mereka menunggu prosesi arak-arakan yang berlangsung setiap tahun baru kalender Jawa itu.

“Ritual malam dan besok (hari ini, Red) tertutup. Tidak boleh ada warga dan kerumunan,” tegas Kabag Operasi Polres Kediri Kompol Didik Warsianto tadi malam.

Polisi memang tak ingin kecolongan. Mereka menerjukan puluhan anggota. Baik dari Polres Kediri maupun dari Polsek Pagu. Selain itu, juga ada back up dari TNI dan anggota perlindungan masyarakat (linmas).

Prosesi suroan itu juga dikurangi. Tidak ada arak-arakan yang biasanya berlangsung dari Balai Desa Menang ke Petilasan kemudian ke situs Sendang Tirta Kamandanu. Hanya ada prosesi di petilasan kemudian menuju ke sendang. Itupun, panitia dan juru kunci petilasan sudah diimbau tidak ada mendatangkan pengunjung.

“Kami berharap kepada semua masyarakat agar tidak datang karena ritual ini dilaksanakan secara tertutup dan terbatas. Jadi masyarakat lebih baik berada di rumah saja karena situasi masih pandemi Covid-19,” pinta lelaki bertubuh tegap itu.

Izin upacara tradisi tersebut adalah berlangsung sederhana dan dihadiri oleh peserta dan panitia upacara saja. Jumlahnya maksimal 20 orang. “Kegiatan juga dipantau oleh satgas Covid-19 kecamatan maupun desa,” sambungnya.

Suratin, 75, panitia, menjelaskan bahwa pihaknya juga sudah mengantongi izin dari desa untuk melakukan upacara. Mbah Tin, panggilan akrabnya, menjelaskan

ia dan juga para pengurus, beserta pihak desa sudah menyepakati. Jika tidak ada arak-arakan besar.

“Kalau upacara besar masih ditiadakan tapi kami tetap mengirim doa, mengagungkan, mengenang, dan melestarikan peninggalan leluhur,” terang juru kunci Sendang Tirta Kamandanu itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *