Warga Bakalan Grogol Kumpulkan Sertifikat Untuk Memperkuat Bukti Hukum

oleh
Warga Bakalan Grogol Kumpulkan Sertifikat Untuk Memperkuat Bukti Hukum

[Memokediri.com]
Warga Bakalan Grogol Kumpulkan Sertifikat Untuk Memperkuat Bukti Hukum.
Kasus pergantian nama pemilik puluhan bidang tanah di Desa Bakalan, Grogol berbuntut panjang. Warga memutuskan untuk mempertahankan tanah di lingkungan mereka. Caranya, dengan mengumpulkan bukti sertifikat sebagai tanda kepemilikan.

Jumali, 57, salah satu warga Bakalan mengatakan, dari puluhan bidang tanah di desanya yang tiba-tiba berganti nama pemilik, beberapa di antaranya merupakan tanah wakaf. Selebihnya, ada pula yang tanah waris.

Berdasar pembicaraan yang dilakukan sebelumnya, mereka sepakat mengumpulkan sertifikat yang dimiliki. Termasuk sertifikat tanah wakaf masjid di lingkungannya yang tiba-tiba ganti pemilik. “Masjid wakaf ada sertifikatnya, tapi tiba-tiba juga ganti nama pemilik,” katanya.

Berdasar penelusuran warga, diakui Jumali, dari puluhan bidang tanah yang berganti nama pemilik tersebut, tidak semuanya sudah bersertifikat. Sebagian lainnya belum mengantongi sertifikat.

Meski demikian, setelah melihat nama-nama pemilik tanah baru, menurutnya semua merupakan warga luar Desa Bakalan. “Tidak ada sama sekali warga kami (pemilik tanah baru, Red),” lanjutnya.

Selain mengumpulkan sertifikat dari puluhan bidang tanah yang berganti nama pemilik, Jumali menyebut warga masih menunggu keputusan dari rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi 1 DPRD Kabupaten Kediri. Sebelumnya, dewan dan kepolisian mengaku siap mengawal dan membantu jika terbukti ada pemalsuan nama tanah.

Berdasarkan hasil tersebut, Jumali menegaskan, warga yang tanahnya belum bersertifikat juga akan segera mengurusnya. “Akan terus kami kawal (kasus penggantian nama pemilik tanah, Red),” bebernya.

Seperti diberitakan, warga mengadukan dugaan penyelewengan tanah ke DPRD Kabupaten Kediri Kamis (12/8) lalu. Sedikitnya ada 83 bidang tanah yang dimiliki oleh sekitar 20 warga Bakalan. Tanah-tanah tersebut tiba-tiba menjadi ‘milik’ orang lain.

Praktik tersebut terkuak setelah notaris Eko Sunu mengkroscek data yang didapatnya ke desa. Saat diteliti, ternyata nama-nama dan bidang tanah tidak ada yang sama nama kepemilikannya alias sudah berganti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *