Warga Nganjuk Tidak Mau Bekerja di Nganjuk, Upah Sangat Kecil

oleh
Warga Nganjuk Tidak Mau Bekerja di Nganjuk, Upah Sangat Kecil

Memokediri.com

Mengapa warga Nganjuk enggan bekerja di pabrik Nganjuk? Menurut Kepala Dinas Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, dan Usaha Mikro (UM) Kabupaten Nganjuk Supiyanto, ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

Mulai dari kebanggaan bekerja di kota besar hingga faktor upah. Nah, faktor upah inilah yang paling utama. Tenaga kerja enggan melamar ke perusahaan-perusahaan di Kabupaten Nganjuk karena Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Kabupaten Nganjuk kecil.

Dari 37 kota/kabupaten di Jawa Timur, UMK Kabupaten Nganjuk pada tahun 2021 menduduki posisi ke-29.  Besarnya, yaitu Rp 1.954.705,75. UMK Kabupaten Nganjuk ini kalah dengan Kabupaten Jombang yang berada di posisi ke-10. UMK Kabupaten Jombang adalah Rp 2.654.095,88.

Bahkan, dengan  Kabupaten Kediri, UMK Kabupaten Nganjuk juga kalah. UMK Kabupaten Kediri sebesar Rp 2.033.504,99. Padahal, dua daerah tersebut berbatasan langsung dengan Nganjuk. “Banyak warga Nganjuk lebih memilih melamar kerja di pabrik-pabrik yang ada di Jombang daripada pabrik di Nganjuk,” ujarnya.

Selain lari ke Jombang, warga Nganjuk juga banyak yang mencari pekerjaan ke Mojokerto,  Sidoarjo, dan Surabaya. Kebetulan, jarak Nganjuk dengan kota-kota tersebut tidak terlalu jauh. Sedangkan, UMK nya sangat jauh berbeda. UMK di Mojokerto mencapai Rp 4.279.787,17.

Kemudian, UMK Sidoarjo Rp Rp 4.293.581,85. Lalu, UMK Kota Surabaya yang menduduki posisi teratas di Jawa Timur, sebesar Rp 4.300.479,19. “Kalau soal UMK ini, kami tidak bisa berbuat banyak,” ujar Supiyanto.

Sayang, tidak semua tenaga kerja Nganjuk yang mengadu nasib ke kota-kota besar tersebut mendapatkan pekerjaan. Mereka banyak yang menganggur. Karena persaingan mendapatkan pekerjaan di kota besar sangat ketat. Warga Nganjuk harus bersaing dengan tenaga kerja dari daerah lain. Sedangkan, lowongan pekerjaan di kota besar tidak banyak.

“Akhirnya banyak yang pulang ke Nganjuk dan tercatat sebagai pengangguran di Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nganjuk,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Nganjuk pada 2020, pengangguran di Kabupaten Nganjuk sebanyak 26.523 orang. Jumlah ini sangat mungkin bertambah. Bahkan, diprediksi jumlah pengangguran tahun ini bisa menembus angka 45 ribu orang. Dalam persoalan ini, Supiyanto mengatakan,

Pemkab Nganjuk sudah berusaha keras agar tenaga kerja bisa bekerja. Salah satunya dengan membuka pintu lebar-lebar untuk pengusaha berinvestasi di Kota Angin dan mewajibkan merekrut tenaga kerja lokal. Kawasan Industri Nganjuk (KING) yang saat ini masuk di pembahasan Raperda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2021-2041 juga disiapkan.

Sayangnya, masalah UMK yang kecil membuat perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri di Nganjuk kesulitan mendapatkan tenaga kerja. “Kebutuhan 5.000 karyawati di pabrik sepatu, Kecamatan Gondang saja sampai sekarang baru ada sekitar 600 pelamar,” keluhnya.

Sementara itu, M. Yusuf, 25, warga Kertosono, Kabupaten Nganjuk mengaku enggan melamar kerja ke pabrik di Nganjuk karena UMK Nganjuk kecil. Dia lebih memilih mencari pekerjaan ke Surabaya. “Sama-sama kerjanya di pabrik iya milih yang upahnya besar,” ujarnya.

Yusuf mengatakan, meski harus kos tetapi dia tidak mempersoalkan. Karena setiap minggu, dia bisa pulang menjenguk orang tuanya. “Hanya 2 jam perjalanan naik motor sudah sampai rumah,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.